Wabah corona covid-19 melanda dunia, juga Indonesia. Korban-korban berjatuhan, warga cemas dan khawatir. Pemerintah di berbagai negara berjibaku menangani. Informasi terkait wabah itu pun memicu kepanikan. Dari semua informasi yang beredar, ternyata tak sepenuhnya pula benar. Bahkan ada pihak-pihak yang dengan atau tanpa sengaja menyebarkan berita hoax. Akibatnya, muncul perasaan cemas, bahkan kepanikan.

Berikut adalah tips bagi kalian agar tetap tenang dalam menghadapi Covid-19 dari sudut pandang seorang Psikolog Klinis: Henni Budiastuti., M.Psi., Psikolog.


A. Jangan Menangkal Kecemasan yang Muncul

Hindari perkataan “Gak usah cemas dan panik deh”. Mengapa demikian? Karena perasaan cemas ini pada umumnya adalah perasaan yang lumrah terjadi pada setiap manusia. Terutama apabila ada tekanan atau berada dalam kondisi tertentu. Perasaan cemas akan menjadi suatu gangguan apabila terjadi secara berlebihan dan tidak terkendali sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Seorang Psikolog Klinis di Departemen Psikiatri di Irving Medical Center Columbia University, Cohen mengatakan:

“Dengan menyadari kecemasan yang terjadi, itu yang akan membantu diri untuk lebih aware terhadap situasi yang terjadi”.

Contohnya saat akan ujian. Tentu kebanyakan orang akan cemas. Jika tidak cemas, maka ia tidak akan belajar. Semakin kita tidak mau menerima kecemasan yang hadir, maka saat itu pula kecemasan kita akan meningkat. Jadi, berlatihlah untuk menerima kecemasan yang muncul, rasakan dengan nyata pada saat hal tersebut muncul. Karena itu yang akan membantu kita untuk dapat membentuk “defense mechanism” atau mekanisme pertahanan yang positif dalam diri. Sehingga kita bisa melakukan kontrol secara spontan saat cemas berlebihan muncul di kemudian hari.


B. Fokus pada Informasi Positif

Masyarakat indonesia menjadi khawatir berlebihan saat muncul pemberitaan-pemberitaan negatif. Tidak sedikit pula media yang membuat berita dengan judul-judul ambigu, dan membuat masyarakat mempersepsikan dari kacamatanya masing-masing. Untuk menghadapi itu, carilah sebanyak mungkin informasi-informasi positif untuk membuat pikiran menjadi lebih positif.

C. Lakukan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) Sewajarnya

Hindari “Panic Buying”, seperti membeli masker sebanyak mungkin hingga merugikan orang lain. Ingatlah bahwa saat kita membeli banyak masker dan menyetoknya di rumah, akan ada orang-orang rentan di luar sana yang justru tidak dapat melindungi dirinya. Besar kemungkinan justru mereka yang akan menyebarkan virus lebih banyak kepada orang-orang yang sehat.

Hindari juga mencuci tangan setiap menit sampai membuat tangan menjadi lecet atau bahkan berdarah. Hal ini perlu diwaspadai, karena bisa jadi ini merupakan gejala awal dari kecemasan berlebihan. Dalam ilmu psikologi, kecendrungan itu biasa disebut OCD (Obsessive compulsive disorder).


D. Lakukan Afirmasi Positif

Anda bisa melakukan afirmasi positif setiap ingin tidur dan saat bangun tidur. Afirmasi positif dapat berupa:

Sistem kekebalan tubuhku sehat dan kuat

Sistem kekebalan tubuhku terfokus dan sesuai,

Fungsi kelenjar timus (yang memproduksi sel darah putih/limfosit-T) ku bekerja dengan sangat tepat

Paru-paruku bersih tidak bernoda

Mikroba-mikroba milikku berseimbangan, tidak menyerang atau merusakku

Aku dipenuhi perasaan cinta dari diri sendiri dan orang-orang di sekitarku.

Afirmasi Positif merupakan salah satu teori psikologis yang pertama kali diusulkan oleh Claude Steele pada tahun 1988. Afirmasi Positif ini dipercaya dapat membantu seseorang untuk menyelesaikan segala permasalahan di dalam hidup. Afirmasi ini dapat dibarengi dengan relaksasi otot progresif atau imagery (membayangkan tempat ternyaman yang membuat anda menjadi lebih rileks).

Serap Informasi dengan Bijak, Sebarkanlah Berita Positif

Jangan sebarkan berita-berita yang kita sendiri belum tahu persis kebenarannya, apalagi menyangkut pemberitaan-pemberitaan negatif.

E. Berolahraga, Makan Teratur, dan Tidur Tepat Waktu

Ketiga hal tersebut dipercaya dapat mengurangi tingkat kecemasan yang terjadi dan membuat diri menjadi lebih rileks.

F. Ikuti Himbauan & Aturan Resmi dari Pemerintah

Seperti mengurangi kegiatan di luar rumah dan tidak bepergian ke luar kota bahkan keluar negeri. Anda bisa keluar rumah hanya untuk keperluan mendesak seperti membeli kebutuhan pokok atau pergi ke dokter. Semoga bermanfaat


Sumber : Tarakan berbagi

Terima kasih kepada : Henni Budiastuti., M.Psi., Psikolog